Walau Tidak Mematikan Tapi Jangan Sepelekan Flu Singapura



Sama juga seperti jenis flu yang umumnya terjadi, untuk pertanda flu singapura ini tidak hanya ditandai dengan pilek dan batuk. Orang yang terkena flu ini akan mengalami seperti ruam merah serta lesi pada tubuh. untuk penularannya sendiri tergolong mudah dan berlangsung cepat, sehingga antisipasinya pun harus sigap, tak terkecuali juga untuk orangtua.

Ada seorang penderita yang bernama gwen, usianya sendiri baru 15 bulan yang sudah terserang batuk dan pilek. Menurut sang ibu yang bernama Novelia, sepertinya flu yang menyerang anaknya bukanlah flu yang pada umumnya terjadi pada anak-anak. Muncul ruam merah pada tubuh Gwen serta lesi berair yang mirip dengan cacar air. Dan akhirnya dokter memvonis bahwa Gwen terserang flu Singapura. Sebenarnya penyakit apa ini?

Penyakit ini diberi nama flu Singapura, karena asal penyakit ini dari negara Singapura yang bertetanggaan dengan negara Indonesia. Flu singapura dalam istilah kedokterannya dikenal dengan HFMD (hand, foot, and mouth disease) atau juga penyakit KTM (kaki, tangan serta mulut). Memang flu ini tidak mematikan, namun jangan pernah menganggapnya sepele. Apalagi jika yang terjangkiti adalah anak-anak serta balita yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah.

Penyebab dari flu ini adalah virus RNA yang masih masuk kategori famili Picornaviridae dan flu ini termasuk jenis penyakit yang berjangkit infeksi. Secara umum, flu yang biasa terjadi hanya menyebabkan penderitanya mengalami pilek, batuk serta demam dan menyerang area tenggorokan.

Baca juga :   Akibat Kekurangan Vitamin B Bagi Kesehatan Tubuh

â??Tapi setelah anak menderita demam sekitar 2â??3 hari, muncul ruam merah dan lesilesi (berair seperti cacar air) pada beberapa bagian di tubuhnya,â? ucap Brad S Graham MD, berasal dari American Academy of Dermatology, hasil kutipan emedicine.medscape.com.

Ada beberapa area yang lebih dominan terkena lesi, seperti area sekitar lidah, mulut, tenggorokan dan pipi. Serta beberapa bagian lain pada selangkangan, kaki, tangan dan bokong bayi. â??Lesi-lesi ini pun lebih dominan ketimbang batuk dan flunya sendiri,â? tambah Brad.

Biasanya kemunculan penyakit menular ini ketika musim panas. Umumnya anak-anak akan terserang penyakit KTM ketika usianya mencapai 2 minggu hingga 5 tahun. Memang ketahanan tubuh balita atau anak-anak lebih rendah dari pada ketahanan tubuh orang dewasa yang pastinya lebih kuat, sehingga balita dan anak-anak akan lebih berisiko.

Menurut salah satu dokter dari RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, dr. Mulya Rahma Karyanti Sp.A, bahwa â??Penularannya bisa dengan berbagai media, misalnya droplet, air liur, tinja, atau penularan kontak tidak langsung melalui barang-barang yang terkontaminasi oleh sekresi tadi. Misalnya, menggunakan peralatan makan yang sama.â?

Menurut Karyanti, untuk penularannya sering terjadi pada tempat-tempat dan fasilitas umum, contohnya tempat untuk menitipkan anak atau taman untuk bermain. Peran serta orangtua sangat penting untuk mencegah perkembangan virus ini, biasakanlah anak untuk mencuci tangan sebelum makan dan jangan menggunakan sendok yang sama untuk menyuapi kedua anak. Sebaiknya setiap anak mempunyai peralatan makan sendiri-sendiri.

Baca juga :   Fakta Dari Penyakit Tipes

Penyakit ini mempunyai masa inkubasi 5 sampai 7 hari, dimana virus sudah masuk ketubuh seseorang, tapi gejalanya sendiri belum terlihat. Gejala awal yang terlihat yaitu demam yang tidak terlalu tinggi berlangsung sekitar 2 sampai 3 hari, disertai juga dengan sakit leher atau faringitis. Gejala flu yang pada umumnya terjadi juga ikut menyertai, seperti nafsu makan hilang serta pilek.

Gejala lain yang ikut menyertai adalah sariawan, terjadi di area lidah, gusi dan bagian dalam pipi, menyebabkan anak sulit makan. â??Tapi tetap harus makan. Beri jeruk atau buah lain yang sarat vitamin C,â? kata Karyanti.

Seiring dengan hal tersebut muncul juga ruam merah pada kulit. KTM ini masuk jenis penyakit self limiting diseases atau jenis penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu 7 sampai 10 hari dan tidak perlu melakukan perawatan di rumah sakit. Yang diperlukan pasien hanyalah istirahat yang cukup karena terjadi penurunan daya tahan tubuh. Pasien akan melakukan perawatan bila gejala berat serta komplikasi ikut menyertai.




loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *